Minggu, 17 Juli 2011

Aneh, Anggota DPR Masih Ada yang Main Sinetron . . !!

JAKARTA - Menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentunya menguras pikiran dan energi cukup banyak. Bagaimana tidak, segudang tugas yang kaitannya dengan kepentingan rakyat menjadi dasar kerja anggota dewan.

Meski punya pekerjaan menumpuk, ternyata masih ada anggota dewan yang berprofesi ganda. Jadi anggota DPR juga jadi artis. Memang, sejumlah artis masuk menjadi anggota DPR periode 2009-2014.

Sebut saja, Ruhut Sitompul, Vena Melinda, Dedi S Gumelar, Eko Hendro Purnomo, Tantowi Yahya, Primus Yustisio, Rieke Dyah Pitaloka, Rachel Maryam, Theresia Pardede, Inggrid Kansil dan Nurul Arifin. Wajah mereka lebih dulu dikenal lewat layar kaca sebagai artis sebelum akhirnya memutuskan diri terjun ke dunia politik.

Hampir dua tahun di Senayan, mereka berkiprah sebagai politikus yang diutus partainya masing-masing untuk bertugas mewakili aspirasi publik, khususnya aspirasi pemilih dari daerah pemilihannya.

Namun, ternyata masih ada anggota DPR yang berlatar belakang keartisan kembali lagi merumput di dunia yang mempopulerkan namanya. Primus Yustisio contohnya. Anggota Komisi VI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini masih menjalani profesi keartisannya.

Primus saat ini bermain di sinetron Nada Cinta yang ditayangkan di salah satu televisi swasta nasional. Terganggukah kinerjanya? "Sangat tidak mengganggu pekerjaan saya karena saya bisa membagi waktu antara menjadi anggota dewan dan artis," kata Primus kepada okezone, Jumat (15/7/2011) malam.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, Primus mendapat teguran dari fraksi lantaran menjadi pemain sinetron. "Dia sudah ditegur waktu itu, karena dia harus fokus dengan pekerjaannya sebagai anggota dewan. Jadi anggota DPR butuh konsentrasi tinggi, tidak bisa dibagi-bagi," kata pimpinan Fraksi PAN kepada okezone.

Soal anggota dewan nyambi jadi artis ini, Ketua DPR Marzuki Alie enggan berkomentar. Dia hanya menyebut tidak ada larangan terhadap anggota dewan yang tetap menekuni profesi keartisannya. "Memang Undang-Undang tidak dilanggar, tetapi soal etika, tanyakan ke Badan Kehormatan DPR," ujar Marzuki. 

Jadi Cerek Atau Cangkir . . ?

Sebenarnya cerek itu akan selalu mencurahkan isinya pada cangkir bila isinya air putih, maka akan keluar air putih, bila diisi air teh maka akan keluar air teh, bila diisi kopi, maka akan keluar air kopi tidak mungkin terjadi selain itu pada kondisi universal.

Cerek akan menuangkan isinya pada cangkir bila diminta/diinginkan, namun akan sulit bagi cerek bila cangkir nya ditutup/tertutup, karena tentu saja cerek takkan pernah bisa mengisi cangkir yang tertutup. Bila kondisi cangkir masih penuh, tentu saja cerek pun akan sia-sia saja menuangkan isinya, karena akan tumpah dan justru malah jadi mubadzir.

Namun bagaimana bila isi cangkirnya hanya setengah? tentu saja bisa diisi, dengan ketentuan setengah isi cangkir tersebut sama dengan apa yang akan dikeluarkan oleh cerek, bila berbeda, tentu saja seseorang takkan pernah merasakan apa rasa sejati isi si cerek, dan itupun sia-sia.

Kasus lain lagi adalah bila cangkir tersebut ternyata selalu berubah-ubah posisinya hingga tidak sesuai dengan sasaran tuang cerek entah selalu lebih tinggi ataupun berpindah-pindah, inipun akan tentu saja menyusahkan cerek untuk menuangkan isinya, karena hanya akan tumpah berceceran kemana-mana, hingga inipun sia-sia belaka.

Lalu harus bagaimana seharusnya? cara yang baik dan benar adalah bila si cerek mau sedikit merunduk untuk menuangkan isinya pada cangkir, dan cangkir mau meneguhkan posisi dan sikapnya untuk menerima isi cerek, dan tentu saja untuk lebih memudahkan cerek untuk menuangkan isinya cangkir juga harus ikhlas berada lebih rendah dari cerek.
Tapi ingat !! janganlah sekali-kali cangkir mau dituangkan isi cerek, bila telah tahu bahwa isi cerek hanyalah air kotor yang tak bermanfaat.
Nah, antum sekarang mau jadi cerek atau cangkir?

*Touch u’re heart ^^ (maaf belepotan)

Sabtu, 04 Juni 2011

Bercermin Diri


Dalam keseharian kehidupan kita, begitu sangat sering dan nikmatnya ketika kita bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.

Sebabnya penampilan kita adalah juga cermin pribadi kita. Orang yang necis, rapih, dan bersih maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapih pula. Sebaliknya orang yang penampilannya kucel, kumal, dan acak-acakan maka kurang lebih seperti itulah pribadinya. 


Tentu saja penampilan yang necis dan rapih itu menjadi kebaikan sepanjang niat dan caranya benar. Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita. 

Dan Allah suka dengan penampilan yang indah dan rapih sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, "Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal", "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan". Yang harus dihindari adalah niat agar orang lain terpesona, tergiur, yang berujung orang lain menjadi terkecoh, bahkan kemudian menjadi tergelincir baik hati atau napsunya, naudzhubillah. 

Tapi harap diketahui, bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin 'topeng' belaka. Topeng 'make up', seragam, jas, dasi, sorban, atau 'asesoris' lainnya. Sungguh, kita baru sibuk dengan topeng, namun tanpa disadari kita sudah ditipu dan diperbudak oleh topeng buatan sendiri. Kita sangat ingin orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, lebih cantik, lebih kaya, lebih sholeh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya. Yang pada akhirnya selain harus bersusah payah agar 'topeng' ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan was-was takut 'topeng' kita terbuka, yang berakibat orang tahu siapa kita yang 'aslinya'. 

Tentu saja tindakan tersebut, tidak sepenuhnya salah. Karena membeberkan aib diri yang telah ditutupi Allah selama ini, adalah perbuatan salah. Yang terpenting adalah diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya 'topeng' yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri. 

Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?" Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah Yang Maha Agung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata yang terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?" 

Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, 'laa ilaaha ilallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"

"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus?

Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampuni?"

Lalu tataplah diri kita tanyalah, "Hai kamu ini anak sholeh atau anak
durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya. Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi! 


"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar,
bersukacita, bercengkrama di surga atau tubuh yang akan tercabik-cabik
hancur mendidih di dalam lahar membara jahanam, terpanggang tanpa ampun, derita tiada akhir?" 


"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak orang lain yang engkau rampas?" 

"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotaranmu?" 

Lalu ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang menyebalkan?" Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu?" 

"Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan?
Khusyu-kah shalatmu, dzikirmu, doamu, ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"

"Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang
tersembunyi, betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat
selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah yang terbungkus topeng-topeng duniawi" 


Wahai sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.



Doggie