Minggu, 17 Juli 2011

Usia 16, Gadis Ini "Berubah" Jadi Pria


"Saya adalah seorang laki-laki yang terperangkap dalam tubuh seorang perempuan."
Meyakini kondisi itu, Nicola segera membabat habis rambutnya. Gadis cantik 16 tahun itu juga menanggalkan semua atribut keperempuanannya seperti rok, aksesori, dan make up. 
Dengan balutan celana maskulin dan kaos ketat untuk menekan payudaranya agar tak menonjol, Nicola mulai memperkenalkan diri ke lingkungan sosialnya sebagai Jason Cooper. 

Terlahir dengan alat kelamin perempuan, ia sudah mencoba menjadi gadis remaja pada umumnya. Tapi, ia selalu tersiksa. Ia pun pernah berpacaran dengan laki-laki saat usia 15 tahun. Tapi, sama sekali tak ada gairah untuk mencium kekasihnya. Hubungan itu pun kandas dalam satu bulan.

"Periode hidup yang sangat buruk, tapi itu justru membuat saya yakin bahwa saya tak bisa terus menjalani hidup sebagai perempuan lagi," kata Jason, seperti dikutip dari laman mirror.co.uk.

Menjadi Jason adalah akhir dari pergulatan batin selama bertahun-tahun. Ia beruntung karena teman-temannya sangat mendukung keputusan besar itu. Teman-temannya pula yang kemudian membantunya meyakinkan sang ibu untuk menerima perubahan tersebut. 

Alison, sang ibu, cukup syok melihat putri cantiknya berubah menjadi sosok yang sangat maskulin. "Saya menangis karena merasa seperti kehilangan anak perempuan. Tapi akhirnya saya sadar, dia telah menjadi anak laki-laki yang mengagumkan, saya kagum dengan keberaniannya mengambil keputusan penting dalam hidup," kata sang ibu. 

Demi menunjukkan dukungan pada putrinya, Alison pun menemani Jason berkunjung ke dokter spesialis pada 10 September 2010. Di klinik itu, Jason mendapat suntikan testosteron untuk menyempurnakan statusnya sebagai laki-laki. Perlahan, Jason tak lagi mendapat menstruasi, suaranya bertambah berat, dan tumbuh brewok. 

Suntikan hormon laki-laki itu membuat Jason semakin percaya diri. Sembari menunggu kesempatan untuk melakukan operasi pengangkatan payudara dan perubahan genital, Jason tak ragu menjalin hubungan asmara dengan gadis cantik bernama Rebecca Green. "Memiliki Rebecca di samping saya membuat saya lebih mudah menjalani hidup," ujar Jason.

Gadis Lumpuh Tulis Novel dengan Bibir


Dengan bibir, ia menulis sejumlah kisah di dunia maya. Menarik lebih 340 ribu pengakses.

Banyak jalan menuju Roma. Mungkin itu yang membuat Wang Qianjin tak mengubur mimpinya menjadi penulis novel. Meski tangannya lumpuh, ia masih bisa mengandalkan gerak bibir untuk menulis kisahnya huruf demi huruf ke layar komputer. 

Gadis 18 tahun asal Zhenjiang, Provinsi Jiangsu, China bagian timur, itu menderita lumpuh otak atau cerebral palsy. 

Selain sulit menggerakkan tangan, penyakit itu juga membuat Wang kesulitan berkomunikasi. Ia hanya mengandalkan komputer untuk berhubungan dengan dunia luar. 

Meski tak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah, ia sangat fasih berkomunikasi dalam bahasa China, walau lewat ketikan di layar komputer. Ia juga memahami bahasa Jepang dan Korea. 

"Saya banyak menonton drama TV yang ada tulisan terjemahannya di layar. Saya mempelajari itu sekaligus pengucapannya. Saya selalu ingat semua setelah menontonnya sekali," katanya seperti dikutip dari laman orange.co.uk.

Hanya bisa berkomunikasi melalui komputer, Wang sangat menikmati dunia maya. Ia menulis banyak kisah dengan nama samaran 'The Exiles Fairy'. Karya terbarunya, kisah cinta sepanjang 200 ribu karakter yang menggambarkan perjalanan seorang gadis dari keluarga kaya yang jatuh cinta dengan seorang gangster.

Ia mengunggah kisahnya bab demi bab. Mendatangkan lebih 340 ribu pengakses. "Banyak pembaca meninggalkan pesan untuk saya, meminta saya untuk meng-update lebih cepat, tapi saya hanya bisa menulis secepat saya bisa," katanya.  

Kini, ia berjuang keras menyelesaikan novelnya sesuai kontrak dengan seorang penerbit online yang menggandengnya. "Saya menulis mulai jam 9 pagi hingga 1 malam. Selain makan dan tidur, saya menghabiskan seluruh waktu saya di depan komputer."

Ayahnya, Wang Yunqi, baru menyadari bakat dan kehebatan putrinya setelah seorang penerbit online menawarkan kontrak kerja sama untuk sebuah novel. "Dia hanya tinggal di rumah dan tidak pernah sekolah. Sulit untuk percaya bahwa dia dapat menulis, bahkan menulis novel," kata sang ayah. 
Celebral palsy merupakan penyakit yang ditandai dengan terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berpikir.

Penyebabnya belum dapat dipastikan. Namun, banyak yang beranggapan terjadi akibat kelahiran prematur sehingga bagian otak belum berkembang sempurna, bayi lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen, atau adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak.

Terlepas tingkat keparahan penyakit itu, sosok Wang telah menginspirasi banyak orang untuk tak menyerah dengan keadaan.

6 Selebriti Botak Gara-gara Ingin Cantik

Teknik menyambung rambut atau hair extention menjadi primadona di tengah komunitas pemuja penampilan yang ingin memiliki rambut panjang secara instan. Mereka rela membayar mahal demi kecantikan sekejap, tanpa sadar malapetaka di kemudian hari.

Bahan kimia yang digunakan untuk menyambung rambut sangat berpotensi merusak kesehatan kulit kepala. Bahkan, tak jarang memicu kebotakan seperti menimpa sejumlah selebriti dunia: Katie Price, Naomi Campbell, Liz Hurley, Britney Spears, dan Nicole Richie.

Bahan kimia tersebut menyebabkan ketegangan pada folikel di kulit kepala, menimbulkan peradangan, dan menyebabkan kerontokan rambut ekstrim. Kerontokan semakin parah karena bahan kimia juga membuat rambut  kering sehingga mudah rapuh. Kondisi yang terjadi dikenal dengan sebutan traksi alopecia.

Awal bulan ini, Katie Price bahkan menuntut seorang penata rambut Hollywood lantaran sambungan rambutnya seharga £11 ribu atau lebih Rp150 juta bermasalah. Gara-gara kekacauan itu, bintang televisi itu harus mengeluarkan biaya £45 ribu atau lebih Rp600 juta untuk memperbaiki mahkotanya.

Jennifer Aniston juga mengalami masalah serupa. Ia sangat menyesal melakukan teknis penyambungan rambut. "Anda tidak akan pernah tahu ada 400 jenis zat kimia merusak di kepala yang akan merusak rambut. Tidak ada yang bisa merusak rambut secepat penyambungan rambut," katanya.
Melihat efek buruk yang kian tak terkendali, sejumlah pakar rambut profesional sudah mulai menyerukan larangan penggunaan teknik pemanjangan rambut instan yang bisa merusak 'mahkota' wanita. Seruan ini penting mengingat permintaan konsumen yang terus meningkat.

Pakar rambut dan kulit kepala dari The Institute of Trichologists, Steve O'Brien, mengatakan, dua tahun lalu salonnya menerima permintaan pemanjangan rambut sekitar 30 konsumen per bulan, tetapi kini lebih dari 50 pelanggan per bulan. Dan, terus meningkat setiap bulannya.

Doggie