Jumat, 29 Juni 2012

Tipikal Manusia di Tanggal Tua

Ilustrasi: Pusat Humor Indonesia
Tanggal tua adalah hari yang tidak ingin dihadapi oleh siapapun. Namun biar bagaimanapun juga, hal ini pasti terjadi. Tapi beda orang, beda juga kelakuannya dalam menghadapi tanggal tua ini.

Berikut adalah Tipikal Kelakuan orang-orang di Tanggal Tua:

Si Bos

Biarpun dia sudah Bos, tapi menjelang tanggal tua mereka juga bakalan pusing. Tapi pusingnya beda sama kamu sih. Dia bukan pusing mau makan apa siang nanti, tapi pusing mikirin gajian kamu. Apalagi kalo pendapatan kantor bulan ini kurang baik. Biasanya tanggal-tanggal tua begini si bos akan menjadi uring-uringan dan sulit diganggu. Biasanya juga, mereka jadi lebih sensitif, suka marah-marah, dan mulai suka nyuruh-nyuruh ngerjain kerjaan yang kurang jelas.

Si Miskin

Ini adalah orang-orang yang bener-bener terkena imbas tanggal tua. Biasanya saat mereka bilang mereka gak punya duit, mereka beneran udah gak punya duit atau beneran udah minim dan cuma cukup untuk transport. Di tanggal tua ini biasanya si miskin akan menolak semua ajakan makan siang di luar dan membawa bekal setiap hari sampai waktunya gajian.

Si Tukang Ngutang

Ini adalah si miskin yang gak mau menerima kenyataan bahwa pada saat tanggal tua dia sudah gak punya uang. Biasanya saat tanggal tua, si Tukang Ngutang ini bakal kelimpungan sana-sini nyari utangan karena dia baru beli barang / mau beli barang / pengen foya-foya. Lumayan bikin sensi sih di tanggal tua, apalagi kalo kamu yang giliran diutangin dan kebetulan kamu juga lagi gak punya duit.

Si Yang Ngakunya Miskin Padahal Nggak ( MISNO ... MISkin NOkoh )

Ini adalah orang-orang yang demi solidaritas ngakunya gak punya duit pas tanggal tua. Padahal sebenernya, dia sih santai-santai aja karena dia selalu hemat dan rajin menabung. Kamu semua pasti tahu dong, hemat itu pangkal kaya. Orang-orang seperti ini biasanya suka menggembar-gemborkan gak punya duit pas tanggal tua, tapi pas lagi makan siang, kamu memergoki dia makan di restoran yang lumayan mahal. Agak bikin dongkol sih, tapi terserah dia dong. Itu kan duit dia, kok kamu yang sensi sih? Makanya rajin menabung dong, biar pas tanggal tua tetep bisa makan mahal.

Si Kaya dan Bijaksana

Ini adalah orang yang terang-terangan gak terkena imbas tanggal tua dan dia gak malu untuk mengakuinya. Malahan dia gak segan-segan untuk menasehati kamu yang tanggal segini udah miskin. Dia akan mengajari kamu pentingnya menabung dan mengatur keuangan kamu demi masa depan yang lebih cerah dan demi hidup yang bahagia. Dia juga akan nyuruh kamu untuk mulai berinvestasi ke emas, reksadana, atau asuransi. Kemudian dia bakal jualan buku, bikin seminar, punya acara TV, dan semakin kaya, sementara kamu mengagumi dia dari jauh, sambil tetap miskin.

Sobat2 termasuk tipe mana? (⌒˛⌒ )

Sumber : malesbanget.com

Sabtu, 02 Juni 2012

Coretan Si Galau

Well, ntah apalah namanya ini sob, yang penting bernutrisi!!
Semoga ya ^_^

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
bikin pusing, bikin bingung, bikin cenat cenut, bikin stress
terlihat mengerikan, tapi mau ga mau HARUS DIHADAPI

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
berawal dari sebuah 'LATAR BELAKANG', didukung oleh 'TEORI' yg relevan
diuji oleh beberapa 'METODE', menghasilkan sebuah 'KESIMPULAN'

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
terdiri dari KAMU sebagai variabel independen X
AKU sebagai variabel dependen Y
dan seberapa besar pengaruh KAMU terhadap AKU

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
terdiri dari POPULASI semua lelaki yang ada di dunia ini
tapi cuma kamu yang aku ambil sebagai SAMPEL nya

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
tidak semudah itu menjelaskannya dengan analisis DESKRIPTIF
dan tak semudah itu mengetahui hubungan kausalnya dengan
PATH ANALYSIS

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
JARAK sejauh Gerlong - Dakol pun akan aku hadapi
harus bolak balik pun tidak masalah, demi kamu

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
kesalahan yang ada harus dikoreksi dan DIREVISI lagi dan lagi
biar kita mendapatkan hasil akhir yang 'sempurna'

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
suatu saat akan DIUJI dan dimintai 'PERTANGGUNGJAWABAN' nya

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
penuh pengorbanan,  menyita waktu, tenaga, materi, dan airmata
tapi klo udah dilewatin, berhasil LULUS 'pengujian' nya
akan ada rasa PUAS dan BAHAGIA yang setimpal

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
bikin saya mabuk kepayang, pusing, stress
agak sedikit gila, dan ga jelas seperti sekarang

>>CINTA itu seperti SKRIPSI
saya merasakan dan mengalami keduanya pada waktu yang bersamaan
itulah alasan kenapa saya menulis semua ini




Jumat, 20 April 2012

Pudarnya Makna Hari Kartini


Raden Adjeng Kartini merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia sebagai pelopor perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, dan emansipasi wanita. Ia merupakan putri dari golongan bangsawan jawa yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang Bupati Jepara.

Kartini lahir di Jepara, pada tanggal 21 April 1879 dan meninggal pada tanggal 17 September 1904 di Rembang.

Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis tot Lich) merupakan sebuah buku kumpulan surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Buku tersebut merupakan bukti begitu besar keinginan seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya sebagai pelopor kebangkitan perempuan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 21 April sebagai hari lahir Kartini dan sekaligus juga menetapkan Raden Adjeng Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang diperingati setiap tahun hingga sekarang dikenal dengan Hari Kartini.

Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini khususnya perempuan, tepatnya setiap tanggal 21 April. Biasanya banyak kegiatan, seperti kewajiban memakai pakaian adat dari berbagai daerah pelosok Indonesia.

Tak hanya itu, dalam perayaan Hari Kartini selalu saja diwarnai dengan lomba yang berbau perempuan. Mulai dari lomba memasak, pasang sanggul, merias wajah, peragaan busana dan sebagainya yang memang menunjukkan kekhasan seorang wanita. Bukankah hal ini malah bisa membatasi aktivitas dari seorang wanita? Karena hal itu hanya menunjukkan tentang pekerjaan sehari-hari seorang wanita.

Seharusnya Hari Kartini ditandai dengan aktivitas yang menunjukkan kesetaraan kaum wanita dan pria, bukannya perlombaan yang hanya mencirikan wanita saja. Para aktivis wanita juga sering meneriakkan tentang kesetaraan gender. Tapi mereka sendiri belum mengetahui kemampuan dari para wanita sendiri apakah bisa disetarakan dengan kaum pria. Inti masalah dari kesetaraan gender sendiri ada pada diri wanita sendiri. Apa mereka mau berusaha keras agar bias sejajar dengan kaum pria? Para wanita sangat mudah menyerah jika mereka menemui sedikit saja masalah dan mereka juga pesimis atas usahanya sendiri.

Sejalan dengan itu, Komnas Perempuan menjadikan hari emansipasi wanita tersebut sebagai momentum penegakan hak-hak perempuan. Hak itu adalah hak atas pendidikan, kemandirian ekonomi, hak untuk tidak disakiti dan sikap protes terhadap budaya atau adat-istiadat yang mendiskriminasi perempuan.

Cita-cita Kartini akan sulit terwujud sepanjang kartini-kartini Indonesia saat ini masih mengalami berbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, ekonomi dan kekerasan seksual.

Meski sesungguhnya Indonesia sendiri sudah memiliki instrumen hukum untuk melindungi perempuan dari kekerasan, seperti UU PKDRT dan peraturan lainnya, namun itu belum cukup karena akses pengetahuan  masyarakat terhadap Undang-undang atau peraturan tersebut masih sangat terbatas.

Buktinya, dalam catatan tahunan Komnas Perempuan 2011 dan diluncurkan pada Maret 2012, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah tingkat kekerasan yang paling tinggi di Indonesia, yakni sebanyak 113.878 kasus (95.6 persen), sementara kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat sebanyak 5.187 kasus (4,35 persen) dan sisanya dilakukan oleh negara sebanyak 42 kasus (0,03 persen).

Sejatinya, aspek penting yang mesti diperingati dari Hari Kartini adalah merefleksikan dan mengevaluasi apakah cita-cita Kartini yang hendak ia wujudkan saat ini sudah terpenuhi atau belum.

Tak hanya itu, kita sebagai kartini-kartini masa depan harus menunjukkan bahwa wanita memang pantas untuk bersaing dengan kaum pria tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Bukannya hanya mengikuti lomba yang memang khas wanita dan cukup meneriakkan emansipasi tanpa diiringi dengan usaha yang menunjukkan bahwa kita pantas untuk itu.

Doggie